Pelajari cara mengatur keuangan untuk bisnis rumahan agar cashflow sehat, laba terukur, dan bisnis bisa berkembang tanpa mengganggu keuangan pribadi.
Memulai bisnis rumahan sering terasa lebih ringan karena bisa dilakukan dari rumah, skalanya kecil, dan modalnya bisa bertahap. Namun justru karena “terasa sederhana”, banyak bisnis rumahan yang mengalami masalah klasik: uang bisnis bercampur dengan uang pribadi, laba tidak jelas, dan cashflow sering seret padahal penjualan ramai.
Keuangan adalah fondasi. Kalau finansialnya rapi, bisnis rumahan bisa berkembang stabil dan tidak bikin stres. Di bawah ini adalah langkah-langkah praktis untuk mengatur keuangan bisnis rumahan agar lebih sehat dan profesional.
1. Pisahkan Uang Bisnis dan Uang Pribadi (Wajib!)
Ini aturan nomor satu yang sering diabaikan.
Kenapa penting:
- kamu bisa tahu laba bisnis sebenarnya
- tidak bingung saat modal “menghilang”
- keputusan bisnis jadi lebih objektif
- memudahkan evaluasi dan pembukuan
Cara paling simpel:
- buat rekening terpisah untuk bisnis
- minimal pisah dompet/e-wallet khusus bisnis
- semua transaksi bisnis masuk-keluar dari jalur itu
Kalau masih satu rekening, bisnis akan sulit naik level.
2. Catat Semua Transaksi, Sekecil Apa pun
Bisnis rumahan sering bocor karena pengeluaran kecil tidak tercatat.
Yang wajib dicatat:
- pemasukan penjualan harian
- biaya bahan baku
- ongkir dan packaging
- listrik/internet (jika membantu bisnis)
- biaya promosi (ads, endorse, boosting)
- komisi marketplace atau payment fee
Kamu bisa mulai dari:
- notes di HP
- spreadsheet sederhana
- aplikasi pembukuan UMKM
Intinya bukan “pakai aplikasi paling canggih”, tapi konsisten.
3. Tentukan Harga Jual dengan Perhitungan yang Benar
Kesalahan umum bisnis rumahan: harga hanya ikut kompetitor, bukan berdasarkan biaya.
Komponen yang harus dihitung:
- harga bahan baku per produk
- biaya kemasan
- biaya operasional (gas, listrik, alat)
- ongkir subsidi (kalau ada)
- biaya promosi
- margin keuntungan
Jika kamu tidak menghitung semua komponen, penjualan bisa ramai tapi tetap tidak untung.
4. Buat Anggaran Bulanan (Budgeting) untuk Bisnis
Walaupun kecil, bisnis tetap butuh budget agar uang tidak habis tanpa arah.
Contoh alokasi sederhana:
- 40–60% untuk modal produksi/bahan baku
- 10–20% untuk marketing/promosi
- 5–10% untuk operasional
- 10–20% untuk tabungan bisnis (pengembangan)
- sisanya untuk cadangan/dana darurat bisnis
Budget membantu kamu tahu batas aman saat belanja bahan atau pasang iklan.
5. Kelola Cashflow: Jangan Cuma Fokus Omzet
Omzet tinggi belum tentu cashflow sehat.
Yang perlu dipahami:
- kapan uang masuk (harian/mingguan/bulanan)
- kapan uang keluar (modal, belanja stok, cicilan, biaya rutin)
- apakah ada sistem pembayaran tempo (misal jual ke reseller)
Tips menjaga cashflow:
- hindari stok berlebihan yang membuat uang “ngendap”
- pastikan ada uang cadangan untuk produksi berikutnya
- kalau pakai marketplace, pahami jadwal pencairan dana
Cashflow yang sehat membuat bisnis tidak mudah macet.
6. Siapkan Dana Darurat Khusus Bisnis
Bisnis rumahan tetap bisa kena risiko:
- bahan baku naik harga
- order turun mendadak
- alat rusak
- akun iklan/marketplace bermasalah
- ada refund besar
Dana darurat bisnis membuat kamu tidak perlu menutup masalah bisnis dengan uang kebutuhan rumah tangga.
Target realistis:
- simpan minimal setara 1–3 bulan biaya operasional bisnis
7. Tentukan “Gaji” untuk Diri Sendiri
Banyak pemilik bisnis rumahan ambil uang bisnis sesuka hati, akhirnya bisnis tidak berkembang.
Solusinya:
- tentukan gaji bulanan atau mingguan
- ambil berdasarkan persentase laba (misal 20–30% laba bersih)
- sisanya tetap diputar untuk bisnis
Dengan cara ini, bisnis punya kesempatan tumbuh, dan kamu tetap merasa “dibayar” secara jelas.
8. Evaluasi Laba Rugi Secara Berkala
Minimal lakukan evaluasi tiap bulan:
- total pemasukan
- total pengeluaran
- laba bersih
- produk paling laku
- biaya terbesar yang bisa ditekan
Evaluasi membuat kamu tahu:
- bisnis ini benar-benar untung atau hanya jalan
- strategi mana yang efektif
- target bulan depan harus apa
Bisnis yang rapi finansialnya lebih mudah naik level.
9. Gunakan Sistem Sederhana untuk Naik Level Secara Pelan
Kalau bisnis mulai berkembang, kamu bisa naik step:
- buat invoice sederhana
- catat stok masuk-keluar
- pisahkan biaya pribadi dan biaya rumah yang mendukung bisnis
- pertimbangkan tools pembukuan
- mulai pikirkan pajak/izin jika skala makin besar
Tidak perlu langsung kompleks, yang penting sistemnya terus membaik.
Kesimpulan
Mengatur keuangan bisnis rumahan adalah kunci agar usaha tidak cuma berjalan, tapi benar-benar berkembang. Mulai dari memisahkan uang, mencatat transaksi, menghitung harga dengan benar, mengelola cashflow, hingga menentukan gaji untuk diri sendiri—semua ini membuat bisnis lebih sehat, profesional, dan minim stres.
Bisnis rumahan yang sukses biasanya bukan karena modal besar, tapi karena keuangan rapi dan keputusan bisnisnya terukur.
Baca juga :