Banyak pebisnis pemula gagal bukan karena produk, tapi karena kesalahan finansial. Simak 5 kesalahan paling umum—dari mencampur uang pribadi hingga salah hitung HPP—beserta solusi praktisnya.
Banyak bisnis tumbang bukan karena produk jelek, tapi karena keuangan berantakan. Pebisnis pemula sering fokus ke penjualan dan promosi, tapi lupa membangun “fondasi angka” yang bikin bisnis bisa bertahan. Akibatnya, omzet terlihat naik, tapi uang terasa selalu habis—dan pemilik bisnis bingung ke mana larinya.
Berikut 5 kesalahan finansial paling umum yang sering dilakukan pebisnis pemula, lengkap dengan cara memperbaikinya.
1) Mencampur Uang Pribadi dan Uang Bisnis
Ini kesalahan nomor satu. Saat uang pribadi dan bisnis jadi satu:
- kamu tidak tahu bisnis sebenarnya untung atau rugi
- cash flow jadi kacau
- keputusan belanja jadi impulsif (“kayaknya masih ada saldo”)
- sulit evaluasi dan berkembang
Solusi praktis:
- pisahkan rekening (minimal 1 rekening khusus bisnis)
- tentukan “gaji pemilik” (owner salary) tiap bulan
- semua transaksi bisnis lewat rekening bisnis, bukan rekening pribadi
Bisnis yang sehat itu punya batas yang jelas antara kebutuhan usaha dan kebutuhan hidup pemiliknya.
2) Salah Hitung HPP (Harga Pokok Penjualan) dan Margin
Banyak yang menentukan harga cuma berdasarkan “harga kompetitor” atau “feeling”. Padahal tanpa HPP yang benar:
- kamu bisa terlihat laris tapi sebenarnya rugi
- promo dan diskon jadi bumerang
- tidak ada ruang untuk biaya operasional
Komponen HPP yang sering kelupaan:
- bahan baku (termasuk yang terbuang)
- kemasan
- ongkir operasional (bukan ongkir pelanggan)
- tenaga kerja produksi
- listrik/gas/air yang terpakai produksi
Solusi praktis:
- buat perhitungan HPP per produk (pakai spreadsheet)
- tentukan target margin (misal 30–60% tergantung industri)
- hitung “biaya tak terlihat” dan masukkan sebagai overhead
3) Mengabaikan Cash Flow (Terlalu Fokus Omzet)
Omzet besar tidak menjamin bisnis aman. Banyak bisnis kolaps saat:
- piutang menumpuk
- stok kebanyakan
- biaya operasional jalan terus, tapi uang masuk telat
Cash flow itu soal kapan uang masuk dan kapan uang keluar.
Solusi praktis:
- catat arus kas mingguan (minimal)
- bedakan uang “profit” vs uang “operasional”
- buat buffer kas (cadangan) minimal 1–3 bulan biaya operasional
- jangan belanja stok besar sebelum pola penjualan stabil
4) Tidak Mencatat Keuangan Secara Rutin (Cuma Mengandalkan Ingatan)
Tanpa pencatatan:
- kamu tidak tahu produk mana yang paling menguntungkan
- sulit mengontrol bocor halus (biaya kecil tapi sering)
- tidak punya data untuk mengambil keputusan
Banyak pemula baru “beresin catatan” saat sudah pusing—padahal sudah telat.
Solusi praktis:
- catat transaksi harian (cukup 5–10 menit)
- gunakan kategori sederhana: pemasukan, HPP, operasional, marketing, gaji, lainnya
- tutup buku mingguan: total pemasukan, total pengeluaran, sisa kas
- review bulanan: profit, margin, dan pengeluaran terbesar
Konsistensi lebih penting daripada aplikasi yang canggih.
5) Tidak Menyiapkan Dana Pajak dan Biaya Tak Terduga
Kesalahan klasik: semua laba dianggap bisa dipakai, padahal ada kewajiban dan risiko:
- pajak (sesuai aturan yang berlaku)
- maintenance alat
- retur/refund pelanggan
- kenaikan harga bahan
- kondisi darurat (akun iklan suspend, supplier bermasalah)
Solusi praktis:
- sisihkan persentase tetap dari pemasukan untuk “pajak & cadangan”
- buat pos “biaya tak terduga” di cash flow
- disiplin jangan memakai dana cadangan untuk kebutuhan impulsif
Bonus: Tanda Kamu Sedang Mengulang Kesalahan Finansial Ini
Kalau kamu sering merasakan:
- “kok uang selalu habis padahal jualan jalan?”
- “bingung mana profit dan mana modal?”
- “tiap akhir bulan panik bayar ini itu”
- “stok banyak tapi kas seret”
Itu sinyal kuat bahwa sistem keuangan perlu dibenahi segera.
Kesimpulan
Kesalahan finansial pebisnis pemula paling sering terjadi karena tidak punya sistem: mencampur uang pribadi, salah hitung HPP, mengabaikan cash flow, tidak mencatat rutin, dan tidak menyiapkan dana pajak/cadangan. Kabar baiknya, semua ini bisa diperbaiki dengan langkah sederhana: pisahkan rekening, hitung HPP dengan benar, catat arus kas, disiplin pencatatan, dan siapkan buffer.
Baca juga ;